Dengan Sains Memetakan Masa Depan
Oleh JANSEN SINAMO

Bila prediksi 300an ilmuwan top—12 di antaranya peraih Hadiah Nobel—ditampilkan dengan padat komprehensif, seperti apa gerangan visi mereka tentang Abad 21? Itulah yang gurih dan semarak disajikan dalam buku terbaru Michio Kaku: Physics of the Future.
Michio Kaku, fisikawan Amerika berdarah Jepang yang berkampus di City University of New York, selain merupakan salah satu perumus teori string yang terkenal maha sulit, adalah juru bicara fisika modern kepada dunia yang semakin padat sains ini. Ia rajin menyambangi ratusan sejawatnya di laboratorium kampus-kampus dan pusat-pusat studi termaju yang meneliti dan merancang purwarupa berbagai teknologi futuristik, serta mengkaji aplikasinya ke berbagai bidang: medis, militer, ekonomi, dan masyarakat.
Lewat kuliah umum dan televisi, tak jemu-jemu ia mengingatkan: sains dan teknologi adalah mesin raksasa ekonomi modern dan lokomotif utama peradaban kita. Michio Kaku adalah Leonardo da Vinci dan Julius Verne masa kini, two-in-one, bahkan lebih.
Enam Teknologi Besar
Kaku membagi Abad 21 menjadi 3 kurun: 2011—2030, 2031—2070, dan 2071—2100. Pada setiap kurun, dipetakannya 6 kelompok teknologi futuristik yang bakal ranum: komputer super dan komputasi masif, kecerdasan buatan dan robotik, kedokteran seluler dan molekuler, materi nano dan mesin-mesin super renik, produksi energi planeter yang terbarukan, serta transportasi maglev dan angkasa luar. Semuanya dimotori oleh 3 revolusi sains abad lalu: revolusi kuantum (1925), revolusi komputer (1948), dan revolusi biomolekuler (1953). Dijelaskan pula: bagaimana buah-buah revolusi ini menjadi mesin ekonomi global yang mengubah peradaban kita sejak itu.
Di masa depan komputer masif memungkinkan mobil-mobil melaju tanpa sopir, internet diakses dengan kedipan mata melalui lensa kontak, keempat tembok ruang kerja menjadi layar digital dengan sajian informasi maha lengkap, realitas teraugmentasi, dan tampilan holografik.
Robot kaku Asimo yang sering terlihat di televisi kelak akan seluwes putri Solo. Mereka menjadi asisten pribadi yang trampil menyiapkan sarapan pagi sekaligus menjadi satpam dan penghibur yang tak kenal cemberut. Di akhir abad ini robot akan berkecerdasan melampaui kita, bahkan menyatu dengan sistem syaraf manusia menjadi apa yang oleh para futurolog disebut sebagai singularitas.
Toilet masa depan akan menjadi laboratorium klinis, yang seusai baca koran pada “ritual wajib” pagi itu, status kesehatan Anda berdasarkan cairan dan padatan yang barusan terbuang segera dilaporkan. MRI pribadi dan genome pribadi tak lama lagi tersedia, terapi gen dan sel punca akan biasa, semua sel kanker bakal takluk, dan terapi menunda bahkan membatalkan penuaan akan lazim sehingga awet mudalah Anda selamanya, kalau mau dan punya dana. Di ujung abad ini kita bahkan bisa menghidupkan kembali spesies antik yang terlanjur punah seperti gajah mammoth atau manusia Neanderthal.
Teknologi nano memungkinkan dibuatnya “traktor” berukuran separo sel darah merah, mengirim ribuan mesin super renik ini membersihkan seluruh pembuluh darah Anda, serta memburu sel-sel tumor yang berani bercokol. Komputer kuantum mulai dipakai, begitu pula berbagai material nano yang sifatnya bisa dipesan untuk membuat pesawat terbang, gedung pencakar langit, atau perkakas teknik sehari-hari. Di akhir abad ini kita akan lazim melihat “makhluk” macam T-1000—musuhnya Arnold Schwarzenegger dalam film Terminator 2: Judgment Day—yang mampu bertiwikrama sesukanya, bahkan bereplikasi.
Bulan dan Mars akan permanen jadi pangkalan. Eksplorasi berikut pun mudah saat roket bertenaga antimateri mulai digunakan. Wisata ruang angkasa bakal ramai ketika elevator angkasa menjadi kenyataan di akhir abad. Dan Star Trek tidak lagi cuma fiksi ilmiah Abad 23, tapi realitas Abad 21 sudah. Kelak, bahkan seantero Bimasakti menjadi garapan kita.
Di Bumi, kisah kemacetan kota-kota metropolitan tinggal kenangan lucu ketika jalan-jalan aspal berganti dengan rel-rel magnetik. Kereta api maglev akan menghubungkan kota-kota besar, tetapi di dalam kota mobil-mobil maglev yang berlalu lalang.
Subuh Peradaban Planeter
Fisikawan Rusia Nikolai Kardashev (1964) membagi peradaban di alam semesta ini berdasarkan jumlah energi yang digunakan. Setakat ini dunia baru menggunakan 14 triliun watt energi, dan bisa ditingkatkan hingga 100.000 kali. Itulah energi maksimum planet ini. Jadi, kita sedang menuju peradaban tipe-1: planeter. Bumi masih terutama berperadaban tipe-0— di posisi 0,7 menurut Carl Sagan—karena hampir seluruh energi yang 14 juta MW di atas berasal dari fosil belaka yang tertimbun di kerak planet ini.
Bila mumpuni menggunakan seluruh energi planeter, dunia akan beranjak menggunakan energi bintang induknya: Matahari. Inilah peradaban tipe-2: stellar; yang dengan seluruh energinya, sebesar 4×10 pangkat 26 watt, kita bisa mengontrol seluruh tata surya hingga ke tepian Pluto sana. Dan jika semuanya lancar jaya—sekitar 10.000 tahun lagi—kita akan berperadaban tipe-3: galaktik; saat kita semakin mumpuni menggunakan seluruh energi Bimasakti sebesar 4×10 pangkat 37 watt.
Jadi, kemajuan kita dalam peradaban planeter ke depan ditandai dengan semakin kolosalnya energi yang kita gunakan: dipanen dari perut Bumi, samudera dan atmosfir, serta inti hidrogen.
Menurut Kaku, semua masalah dunia bisa disederhanakan menjadi satu: kurangnya energi. Bila energi cukup, maka semua sampah bisa diolah jadi pupuk, dan semua materi bisa dibuat.
Hanya satu masalah yang tak terpecahkan dengan energi sebesar apa pun: kelembaman manusia. Sementara sains, teknologi, ekonomi umat manusia tumbuh eksponensial, kearifan dan keluhuran pekertinya nyaris linier dalam 100 ribu tahun ini, sejak leluhurnya meninggalkan Afrika. Peradaban kita rawan dibajak oleh naluri primitif Homo sapiens: egoisme, barbarisme, rasisme, dan fundamentalisme. Semangat primordial ini menghambat kita naik kelas ke peradaban tipe-1, dan potensial memusnahkan peradaban tipe-0 ini, yang kita bangun dengan susah payah.
JANSEN SINAMO; lulusan Jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung (1984); kini menekuni Etos Kerja Profesional; tinggal di Jakarta.